Tips Anak Suka Baca

26 komentar

 
Mengapa anak harus senang membaca? Berdasarkan pengalaman saya, anak yang senang membaca memiliki wawasan luas. Dia kaya akan pengalaman dari segala hal yang dia baca. Kadang anak saya bercerita kalau dia baru tahu tentang suatu hal. Ketika saya tanya dari mana dia tahu, dengan enteng dia menjawab, “Dari buku yang kubaca!” Lalu, bagaimana supaya anak senang membaca? Ini pengalaman saya bersama anak-anak saya.     

1. Sediakan Bahan Bacaan

Ini adalah syarat utama. Kalau tidak ada bahan bacaan, apa yang akan dibaca? Waktu kecil, ayah saya sering membelikan Majalah Bobo. Tidak selalu baru. Malah, seringnya Majalah Bobo bekas yang sudah dibundel. Dari sinilah kegemaran membaca saya mulai tumbuh. Lalu, suatu hari saya membaca novel Lima Sekawan milik sepupu saya. Hei, ternyata ceritanya seru! Sejak saat itu, saya jadi sering menyisihkan uang jajan untuk beli novel. Serial Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Trio Detektif … itu beberapa novel favorit saya! 

Berdasarkan pengalaman itu, saya pun berusaha menyediakan bahan bacaan untuk anak-anak. Saya beruntung, pernah kerja di Gramedia, sehingga memiliki akses mudah (dan kadang-kadang murah) untuk mendapatkan buku-buku bagus. Dan ternyata, itu sangat berguna di saat pandemi ini. Ketika anak-anak harus di rumah saja, salah satu kegiatan yang bisa mereka lakukan “membongkar” rak buku. Beberapa buku bahkan sampai dibaca berkali-kali. Efeknya? Rak buku jadi berantakan. Tetapi, berantakan karena buku-bukunya banyak dibaca, sih, nggak papa, lah ….

O ya, kalau bahan bacaan di rumah habis, kita juga bisa baca buku-buku bagus di perpustakaan online. Saya dan anak-anak lebih sering mengakses iPusnas, Room to Read, dan Let’s Read. Silakan diatur sendiri penggunaan gawai untuk anak-anak, ya! Gunakan gawai dengan bijaksana.

2. Tumbuhkan Kebiasaan Membaca

Kapan saat terbaik membacakan buku untuk anak-anak? Kalau saya, sejak anak-anak lahir. Banyak orang bahkan melakukannya sejak anak-anak masih dalam kandungan. Memangnya anak-anak ngerti? Di awal-awal, mungkin mereka belum terlalu ngerti. Tapi, kalau saya, sih, salah satu tujuan saya adalah menumbuhkan kebiasaan membaca pada anak-anak. Kalau sejak kecil mereka terbiasa membaca dan dekat dengan buku, maka mereka menganggap kegiatan membaca adalah bagian dari kegiatan sehari-hari. Dan kalau bukunya dibaca berulang-ulang sambil memberikan pemahaman, anak-anak bisa paham, kok.

Tentu saja, saya memilihkan buku yang sesuai untuk anak-anak. Misalnya, saat anak-anak masih balita, saya pilihkan buku yang banyak gambarnya. Bahkan, mungkin buku yang hanya berisi gambar, tanpa kata-kata. Membaca tak selalu kata-kata, lho, membaca gambar pun tetap disebut sebagai kegiatan membaca.

Awalnya, saya juga hanya menunjukkan gambar-gambar di majalah sambil menjelaskan tentang gambar itu. Kadang, majalahnya dicorat-coret, bahkan dirobek sama anak saya. Makanya, saya carikan majalah bekas dulu untuk perkenalan. Lama-lama, dia bisa mengerti bahwa majalah atau buku itu untuk dibaca, bukan dicorat-coret atau dirobek.

3. Beri Contoh

Saat masih kerja di Gramedia, saya sering pulang membawa koran, majalah, atau buku. Suami saya sering membaca korannya. Saya baca majalah atau buku bersama anak saya. Saya rasa, kegiatan itu termasuk menjadi pencetus kegemaran membaca anak saya. Ketika dia melihat orang-orang di sekelilingnya membaca, dia jadi kepingin melakukannya. Awalnya mungkin sekadar ikut-ikutan. Tetapi, kalau sudah menemukan keseruannya, pasti dia akan menyukai kegiatan membaca.

4. Temani Anak Membaca

Ketika anak-anak belum bisa membaca, saya harus siap berada di sampingnya untuk membacakan buku. Jujur saja, kadang saya bosan kalau anak minta dibacakan buku yang sama berulang-ulang sampai dia hapal isinya. Tetapi, ya, disabar-sabarkan, lah. Tidak selamanya dia seperti itu. Kalau sudah bosan, dia akan mencari bacaan lain, kok. 

Meskipun anak mulai bisa membaca sendiri, saya tetap berusaha untuk menemani. Mungkin ada satu-dua kata yang belum dia mengerti. Kadang-kadang dia masih belum paham apa yang dia baca. Kalau saya ada di sampingnya, saya akan bisa menjelaskannya. Kalau saya tidak bisa menjelaskan, ya, cari tahu di internet. 

Saat anak saya sudah lancar membaca, bahkan sudah baca novel, saya tak selalu menemaninya. Tetapi, saya berusaha untuk tahu apa yang dia baca. Kadang, kami mulai berdiskusi tentang buku yang baru saja dia baca.

5. Beri Tantangan

Untuk mengetahui pemahaman anak-anak tentang buku yang mereka baca, saya sering meminta anak-anak menceritakan kembali apa yang mereka baca. Tentu disesuaikan dengan perkembangan mereka. Misalnya, kalau anak yang masih balita, ya, cukup ditanya tentang siapa tokohnya, mereka sedang apa, apa yang terjadi, dll.

Untuk anak sulung yang sudah kelas 5 SD, saya memberi tantangan untuk membuat resensi buku. Saya tidak memberi target. Semau dia saja. Kalau sempat menulis, ya dia tulis. Beberapa resensinya dia posting di media sosial. Dan, dia suka kalau ada yang menyukai hasil tulisannya. Saya berharap anak-anak tidak sekadar bisa membaca, tetapi juga bisa mengerti apa yang  mereka baca.

Nah, itu pengalaman saya dan anak-anak. Anak yang berbeda, tentu punya kemampuan, kebiasaan, dan pengalaman berbeda. Cara yang cocok dipakai untuk anak saya, belum tentu cocok jika diterapkan untuk anak lain. Tinggal kita pilih saja, mana yang paling cocok untuk anak kita.

Semoga bermanfaat!

Veronica W
Seorang penulis dan editor yang menyukai dunia anak-anak.

Related Posts

26 komentar

  1. Wah.. Sekar sudah besar ya 😍 kelas 5

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa ... Sementara aku segini-segini aja, hihi ....

      Hapus
  2. sangat implementatif nih tips nya mba. pastinya ortu kudu sabaaaaar extra dah ya mba dalam mendampingi anak urusan membaca, termasuk kita screening bahan bacaan mereka yang bakal makan waktu dan energi lebih. semangat kita ya mbaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak. Iya, memang kudu ekstra sabar... tapi, semoga hasilnya pun memuaskan. Semangaat!

      Hapus
  3. wah ini tantangan banget buatku mba. mau stock buku tapi raknya penuh, mau baca ebook matanya sakit wahahahha... tapi so far aku lebih dapet feelnya ketika baca buku fisik, sementara anak2 lebih suka ebook

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi ... Saya juga lebih suka buku fisik, Mbak. Tapi, kalau buku fisiknya udah susah didapat, larinya ke ebook juga. Kalau buat anak-anak, saya masih lebih banyak sodorkan buku fisik. Ebook-nya sekali-sekali aja.

      Hapus
  4. Keren mbak. Suka sekali dengan tulisannya. Memang dari kecil anak2 perlu dibiasakan membaca dan menulis. Mungkin jika masih sangat kecil, mrk mendengarkan nyanyian dan dongeng ya.... wah bisa jadi anak2 hebat ntar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak. Iyaaa, buat anak-anak yang lebih kecil, bisa dimulai dari nyanyian, dongeng, dan dipilihkan buku kain atau boardbook sebagai pengenalan ^^

      Hapus
  5. Singer jaman dulu aku suka sekali dengan buku cerita Lima Sekawan. Koleksi bukunya komplit. Plus trio detektif pun aku sukaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru yaaa .... Tapi, ternyata anakku nggak suka Lima Sekawan. Dia lebih suka yang model Malory Towers. Beda generasi, beda selera ^^

      Hapus
  6. Wah, kalau nanti saya punya anak bakal mencoba menerapkan ini mba. Menarik banget jadi anak nggak dipaksakan untuk melakukan sesuatu, tapi "diajak".. ini mengingatkan mama dan papa ku dulu yang juga menerapkan hal2 gini ke saya. Dan bener-bener berguna bangett

    BalasHapus
  7. Betul, Mbak. Bagi saya juga berguna banget. Dua anak saya bisa membaca sendiri karena mereka terbiasa melihat buku. Jadi penasaran pengen bisa baca, terus belajar baca atas kemauan sendiri. Saya tinggal mendampingi saja.

    BalasHapus
  8. Wah menanamkaj minat baca pada anak sekarang memang cukup PR banget ya mbak, supaya ga melulu main hp biar matanya bisa istirahat dari screen time seharian selama sekolah online ini

    BalasHapus
  9. Iya, Mbak. Makanya, saya berusaha lebih banyak menyediakan buku fisik, meskipun sesekali juga mengajak anak-anak baca ebook. Susahnya, ebook di internet itu bagus-bagus dan lebih murah, hihi...

    BalasHapus
  10. Mengajak anak menyukai buku memang nggak mudah tapi kalau sudah berhasil senang lihatnya ya Mbak..jadi kutu buku yang harus membaca...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Kalau anak-anak sudah mulai senang membaca, tinggal kita dampingi biar bacaannya juga sesuai buat mereka...

      Hapus
  11. Wah, idenya untuk membuat resensi buku buat si Kakak dan posting di medsos, kereen. Saya selama ini cuma ngajak baca sana nulis cerita saja. Terima kasih, Mbak Vero.

    BalasHapus
  12. Makasih ^^ Awalnya, sebenarnya dia masih di bawah umur untuk main ig. Tapi, selama pandemi ini banyak temannya yang bikin akun di ig. Kadang tugas sekolah juga ada yang disuruh posting di ig. Akhirnya saya izinkan bikin akun ig, asal di-privat dan ada nilai plus-nya, misalnya posting resensi, biar teman-temannya juga bisa ikut baca ^^

    BalasHapus
  13. Kegemaran anak untuk membaca memang harus didukung ya mbak.. aku setuju banget kalau soal itu hehe, soalnya sewaktu kecil dulu aku suka baca, tapi dirumah jarang ada buku jadinya kesukaanku untuk membaca jadi menurun.. dulu membaca itu diotakku identik dengan belajar pelajaran sekolah haha.. jadi sering mager untuk membaca opps..

    tapi sekarang sudah bisa beli buku bacaan dan jadi suka membaca lagi hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyiiik! Mari kita tularkan virus membaca pada orang-orang di sekitar kita ^^

      Hapus
  14. Wah makasih tipsnya mba... Emang perlu banget mengenalkan anak pada buku sejak dini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mbak ^^ Iyaaa, banyak manfaatnya, kok.

      Hapus
  15. bagian dari tumbuhkan kebiasaan membaca aku selalu bacain dongeng sebelum tidur, biar anakku terbiasa dan kenal dengan banyak2 bacaan. literasi sejak dini nih perlu deh. nuhun sharingnya ya mba

    BalasHapus
  16. betul mbaa, kayak ortuku juga gitu nyediain bacaan. sebenernya bacaan buat mereka sendiri sih tapi aku kan juga kepo pengen ikutan bacaa 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi... Berarti, pas kita jadi ortu, mesti hati-hati menyimpan bacaan yang belum cocok buat anak-anak ya ....

      Hapus

Posting Komentar