Menjadi Penulis Hebat Bersama ASUS VivoBook 15 A516

16 komentar

Pertengahan Bulan Juni lalu saya baru saja mengikuti pertemuan penulis GLN 2021. Salah satu juri sekaligus mentor, Mas Benny Rhamdani  memaparkan, salah satu yang harus dilakukan untuk menjadi penulis hebat adalah pengembangan. Setuju! Jangan pernah puas dengan apa yang sudah kita raih. Dunia terus berlari. Kita pun harus terus belajar dan berkembang supaya tidak tertinggal. Hmm, saya jadi berpikir, selama ini, apa yang sudah saya lakukan untuk terus berkembang?





Tidak bisa tidak, seorang penulis wajib menjadi seorang pembaca. Selama ini, kalau mau menulis cerita, saya juga membaca dulu. Misalnya, di GLN 2021 ini saya menulis cerita tentang koala. Maka, saya membaca buku dan tulisan-tulisan tentang koala. Tak hanya itu. Saya juga membaca buku-buku cerita bergambar untuk menyegarkan kembali pikiran saya. Saya pelajari lagi bahasanya, ilustrasinya, penataannya, dan lain-lain. Selalu ada hal baru yang saya temukan di setiap buku yang saya baca.




Kalau kita nggak pernah menulis, tentu saja kita nggak akan disebut sebagai penulis, bukan? Kalau dilihat jumlahnya, memang belum banyak buku anak yang saya terbitkan setiap tahun. Tetapi, saya tetap menulis, kok. Menulis cerita di majalah, menulis cerita yang masih tersimpan di laptop, dan ini, saya sedang menulis cerita di blog, hihihi….




Beruntung, di beberapa kegiatan atau sayembara yang saya ikuti, sering ada workshop untuk para penulis. Dua kali ikut workshop penulis dari Room to Read dan tiga kali ikut pertemuan penulis GLN membuat saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman yang sangat berharga dan bermanfaat. Di masa pandemi ini, saya juga beberapa kali ikut kelas online tentang tentang penulisan. Pokoknya, nggak boleh bosan untuk belajar.




Bagi saya, ikut komunitas itu selain menambah teman, juga bisa menambah ilmu dan pengalaman. Salah satu komunitas yang saya ikuti adalah komunitas PBA atau Penulis Bacaan Anak. Banyak teman pegiat literasi anak di sana. Kami semua bisa saling berbagi ilmu, pengalaman, dan informasi tentang dunia penulisan. Karya teman-teman anggota PBA yang bertebaran bisa membuat saya jadi tambah semangat untuk berkarya juga.




Apakah seorang penulis hanya perlu memiliki kemampuan menulis yang baik saja? Ternyata tidak! Waktu masih bekerja sebagai tim redaksi Majalah Bobo, saya sering diberi tugas liputan tanpa ditemani fotografer. Otomatis, saya harus bisa memotret. Saya sempat ikut pelatihan fotografi dan belajar pada teman fotografer.

Saat masih di Redaksi Bobo juga, selain menulis, saya diberi tugas mengedit naskah cerpen dan dongeng yang masuk ke redaksi. Saya pun belajar tentang proses editing pada teman-teman senior. Beruntung, ketrampilan editing ini sangat mendukung saat saya sudah mandiri sebagai penulis lepas. Selain bisa untuk mengedit naskah sendiri alias self editing, beberapa teman juga menawari saya pekerjaan sebagai editor lepas. Wah, bersemangatlah saya!

Satu hal yang masih bikin saya penasaran, yaitu menggambar. Kebayang, betapa serunya kalau saya bisa mengilustrasi buku sendiri. Saya bisa membuat gambar sesuai yang saya imajinasikan. Hmm, tapi, mungkin karena passion saya bukan di ilustrasi, tetap aja, hasil gambar saya nggak bagus, hahaha… Tapi, tetap saja saya harus belajar, biar kalau lagi diskusi sama ilustrator, enggak cuma bengong. Paling tidak, tahu lah, apa yang sedang dibicarakan.

Oya, satu lagi yang belum kesampaian. Kalau saya nggak bisa mengilustrasi buku sendiri, paling tidak, saya bisa mendesain buku saya. Setiap ikut penyusunan buku GLN, hasil akhir buku harus dikirim dalam format indesign. Duh, saya buta indesign. Akhirnya, pasrah pada ilustrator. Mestinya, saya juga belajar. Biarpun nggak pintar, paling tidak, saya ngerti, biar kalau cuma memperbaiki teks sedikit, enggak perlu ngribetin ilustrator atau layouter.

Lalu, Apa yang Saya Perlukan?

Naaah, usaha untuk terus mengembangkan kemampuan itu, tentu nggak cuma modal gratisan, dong! Untuk menambah ilmu dan referensi, bisalah dibantu dengan berbagai buku, baik buku cetak maupun ebook. Untuk bergabung dengan komunitas atau berguru pada orang yang ahli di bidangnya, bisalah lewat dunia maya. Sepertinya, laptop yang saya miliki masih bisa mendukung untuk semua itu.

Tapiiii, kalau mau belajar edit foto, menggambar, mendesain, tentu butuh sarana pendukung yang lebih canggih. Ada cerita waktu saya mau berangkat pertemuan penulis GLN 2021 kemarin. Ceritanya, para penulis diwajibkan mengumpulkan naskah dalam format indesign. Sebenarnya, ilustrator saya sudah membuatkannya. Dia juga membuatkan versi pdf-nya. Tapi, saya penasaran dong, pengen ngintip versi indesign itu kayak apa. Sayang, di laptop saya nggak ada programnya. Salah satu teman menyarankan untuk mencoba free trial 7 hari untuk download aplikasi Adobe Indesign. Langsung semangat mencobanya! Yes, berhasil!

Namun, apa yang terjadi? Tahu-tahu, laptop saya jadi lemot! Waduh, padahal saya harus membawanya ke Jakarta. Hiks! Rupanya, laptop saya nggak support untuk program yang agak berat ini. Duh! Saya jadi ingat, dulu pernah juga install program Adobe Photoshop untuk belajar edit foto. Sama, laptopnya jadi lemot, jadi saya uninstall lagi program itu. Saya pun coba uninstall program indesign di laptop. Cling! Laptop saya normal kembali!

Hmm, ternyata, saya nggak cuma perlu upgrade kemampuan, tetapi juga perlu upgrade peralatan.

Cari … Cari … Cari… Ketemu!

Saya pun mencari info tentang spesifikasi laptop yang saya butuhkan. Cari sana cari sini, tanya sana tanya sini, tiba-tiba… Cring! Ketemulah saya dengan ASUS VivoBook 15 A516. Hmm, diakah yang saya cari? Tunggu, saya cek dulu satu persatu, apa yang dia miliki! Kok, kayak menyeleksi calon suami aja, hahaha….

(foto: www.dewirieka.com)

Layar yang lebar dan luas yaitu 15.6 inci dengan 178 degree wide viewing angle. Teknologi Nano Edge yang dimilikinya membuat area layar tampak lebih luas.

Wah, kebayang, laptop ini bisa dipakai buat mantengin  ilustrasi, foto, dan animasi dengan lebih jelas dan legaaa… Bonusnya, bisa buat baca ebook atau nonton film bareng anak-anak tanpa harus menyipitkan mata. Pasti seru!

Bobot keseluruhan 1,8 kg. Sangat portable dan ringan!

Nah, ini, nih! Laptop pertama saya berukuran 15.1 inci. Tapi, saya malas bawa ke mana-mana karena berat. Hmm, kalau cuma 1,8 kg, wah, anak saya pun nggak akan keberatan kalau harus membawanya.

Layar beresolusi full HD dan memiliki lapisan anti silau hingga lebih nyaman digunakan di luar ruangan.

Jadi, bisa dong, ketemuan sama ilustrator di taman atau bekerja di kebun sambil menikmati semilir angin dan kicau burung yang merdu. Hmm, ide-ide pun akan mbrudhul alias bermunculan.

Penampilan elegan, dengan pilihan warna Transparent Silver dan Slate Grey yang cantik.

Dengan penampilan elegan dan performa yang mantap, nggak malu-maluin kalau harus ketemu klien. Yang pasti, penampilan dan warna kesukaan membuat kerja jadi tambah semangat. Kalau saya, sih, lebih suka yang warna slate grey, terasa lebih tegas!

Prosesor Intel® Core™ i5 generasi ke-10 dengan RAM 8GB, dan grafis diskrit NVIDIA® MX330.

Wah, ini asyik! Bisa buat editing foto, ilustrasi, dan video dengan cepat dan efisien pastinya. Duh, tiba-tiba saya jadi kepingin belajar animasi juga!

Desain ruang penyimpanan ganda. Artinya, kapasitas penyimpanan bisa lebih besar dan kinerja laptop bisa lebih cepat dengan storage berbasis Solid State Drive (SSD) berkapasitas mulai dari 256GB serta HDD hingga 1TB.

Waaah, koleksi ebook, lagu, dan video aman tersimpan di sini. Saya bisa melakukan apa saja dengan laptop ini. Kalau kata ASUS, sih, store more, do more.

Duh, semakin termimpi-mimpi untuk punya laptop ini! Dengan slogan “ASUS - 15 Inch Modern PC.Bigger Dream, Wider Screen”, laptop ini bisa diajak untuk mewujudkan mimpi menjadi penulis hebat. Yuuuk!

(foto: www.asus.com)
* Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS-15 Inch Modern PC, Bigger Dream, Wide Screen Writing Competition bersama dewirieka.com.

Veronica W
Seorang penulis dan editor yang menyukai dunia anak-anak.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

16 komentar

  1. Ruang penyimapanan yang besar dan layar lebar tentu menjadi kebutuhan semua org ya Mbak, apalgi penulis atau blogger, punya laptop seperti ASUS 15 A516 ini tentu menjad iimpian. Semoga terwujud ya Mbak. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, ruang penyimpanan yang besar, kerjanya cepat, layarnya lebar, bikin kita makin betah di depan laptop. Ini impian kita bersama, Mbak, hihi... Semoga impian Mbak Ippo juga terwujud, ya! Makasih, Mbak Ippo.

      Hapus
  2. Cocok banget ini ASUS A516 soalnya udah dapet Microsoft Office seumur hidup, wah bakal banyak cerita yang hadir lagi nih mba vero

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin. Makasih, Mbak Elin. Mari kita wujudkan mimpi-mimpi kita ^^

      Hapus
  3. Waduh emang sedih dan pastinya deg-degan ya mbak Vero, kalau lagi kepepet eh trus laptop jadi lemot..
    Pusing tuju keliling kalau pas lagi deadline tugas kuliah dulu haha..
    Keunggulan laptop emang harus selalu terdepan, apalagi untuk software edit-editan yang kadang membutuhkan kerja yang extra jadi harus bisa diandalkan..
    Semangat mbak Vero, semoga terkabulkan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin. Makasih, Mbak Aqma. Iya, betul, laptop udah jadi andalan untuk menyelesaikan pekerjaan. Laptop yang lemot bikin kerjaan nggak beres dan mood jadi kacau, hehe. Semangat dan sukses buat Mbak Aqma juga, ya!

      Hapus
  4. Setuju banget, laptop kalo spec nya gak mumpuni kalau download beberapa aplikasi yang agak berat jadi suka lemot ya mbak, huhu. Saya juga suka sebel nih di poin ini, kalau laptop udah lemot semua jadi serba terhambat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Kerjaan terhambat, mood kerja pun jadi kacau...

      Hapus
  5. Wah aku dulu pecinta majalah bobo loh mba.. bahkan suka baca kayanya karena bobo.. ternyata mba salah satu redaksinya, senang deh xixi.. btw, aku juga sama kaya mba, passion bukan diilustrasi, padahal asyik ya kayanya kalau bisa gambar jugaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya suka baca juga karena Bobo, Mbak, hehe... Iyaaa, kebayangnya emang asyik kalau bisa gambar sekaligus nulis....

      Hapus
  6. Ikutan GLN itu masih jadi wishlist ku hihi harus meningkatkan imajinasi dan kemampuan menulis nih Mbak biar bisa terjaring jadi peserta.. Pandemi ini ternyata bikin semangat kita belajar hal baru jadi lebih tinggi ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm, Mbak Dedew nggak ikut GLN tapi punya seabrek kegiatan literasi lain yang nggak kalah seru dari GLN, hehe... Iya, setuju. Di masa pandemi ini, kesempatan belajar untuk orang-orang yang punya keterbatasan mobilitas (kayak saya) pun semakin luas, jadi kita juga semangat untuk mempelajari hal-hal baru yang bisa dilakukan dari rumah.

      Hapus
  7. Keren banget mbaaa... Semoga suatu saat nanti bisa berkesempatan itu GLN. Aku jga setuju mba, ASUS memang mantap bgt buat jadi sahabat penulis... semangat trus berkarya mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Semangat juga buat Mbak Roswita, ya! ^^

      Hapus
  8. Mbaaak, aku ikut room to read juga, yg di bandung th 2016. Apakah kita ketemu 🙈🤭
    Tapi ilmuku masih mentok ini, belum ada perkembangan. Mau dong ikut belajar juga 🤭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah, lulusan RtR juga ternyata, hihi... Aku ikut tahun 2014 dan 2019, Mbak. Ayooo, belajar bareng... ^^

      Hapus

Posting Komentar