Seru-Seru di GLN 2021

34 komentar

Nggak pernah terbayang dalam benak saya, di masa pandemi begini harus berangkat ke Jakarta. Apalagi, saat angka kenaikan penderita Covid-19 di Jakarta baru tinggi-tingginya. Tetapi, memang begitulah keadaannya. Saya harus berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Literasi 2021 yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Kami biasa menyebutnya Pertemuan Penulis GLN 2021.

Halo, Jakarta!

Pemandangan dari lt.7 Hotel Swissbell Kalibata

Ketika membaca pengumuman pemenang sayembara penulisan GLN 2021, saya bersyukur. Naskah saya yang berjudul “Selamat Tidur Kola!” berhasil menjadi salah satu dari 75 karya terpilih. Menurut panitia, 75 naskah ini terpilih dari 1421 naskah yang lolos seleksi administrasi. Senang? Iya. Bangga? Iya. Semangat? Iya. Tahun kemarin, pertemuan penulis diselenggarakan secara daring. Dalam bayangan saya, karena masih suasana pandemi, tahun ini juga bakal daring. Saya sempat tertawa waktu teman saya bilang, “Sampai bertemu di bandara.” Lho?!

Iya, ternyata penulis memang wajib datang ke Jakarta tanggal 15-18 Juni 2021. Duh, ke Jakarta saat pandemi? Takut. Harus ninggalin anak-anak pula. Tetapi, nggak mungkin juga untuk mengundurkan diri. Saya sudah tanda tangan di atas meterai, siap mengikuti semua proses penyusunan buku. Sempat menawar pada panitia supaya bisa ikut daring saja. Sayang, tidak bisa. Dengan niat baik dan pikiran positif, saya pun berangkat. Jakarta, aku datang menjengukmu!

Rombongan Jogja (foto: Oky E. Noorsari)

Ketemu teman-teman penulis lain, seneng banget! Tapiii, harus tabah untuk tidak cipika cipiki dan berusaha untuk tidak terlalu dekat. Hiks, susah banget. Mau foto-foto juga jadi agak gimanaa gitu. Yang jelas, prokes harus tetap dijaga. Bersyukur, panitia pun mengusahakan yang terbaik. Setiap peserta diberi satu kamar sendiri. Di setiap sesi acara juga selalu disediakan masker dan hand sanitizer yang cukup. Sebelum berangkat, ada dana untuk tes antigen. Sebelum acara berakhir pun, panitia mendatangkan petugas kesehatan untuk tes antigen kembali. Jadi, semua berharap, semua peserta pertemuan berada dalam kondisi sehat, bebas dari Covid-19. Terima kasih, panitia ^^

Ngapain Aja, Sih?

Hari pertama, tentu saja melepas kangen dengan teman-teman peserta pertemuan. Ini salah satu yang dirindukan saat GLN, reuni! Kebetulan, sebagian besar sudah saya kenal. Mereka sudah cukup berpengalaman di dunia kepenulisan. Senang dan bangga berteman dengan teman-teman yang selalu bersemangat memajukan dunia literasi anak.

Menjelang malam, ada acara pembukaan. Kami semua menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lalu, Bapak Aminudin Aziz selaku pengarah kegiatan memberikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi.

Menjadi Penulis Hebat ala Benny Rhamdani

Sesi Mas Benny Rhamdani

Hari kedua adalah hari yang paling bergizi. Ada 4 pemateri hari ini. Terlalu banyak kalau mau diceritakan secara detail di sini. Saya ambil intinya saja, ya.

Pertama, Mas Benny Rhamdani yang menyajikan materi tentang Menjadi Penulis Hebat. Mas Benny menceritakan perjalanannya di dunia literasi. Kalau Mas Benny jadi seperti yang sekarang ini, ternyata memang terbentuk sejak kecil. Sejak kecil beliau senang membaca, hingga akhirnya penasaran untuk bisa menulis cerita. Daaan, kegigihannya patut dicontoh. Misalnya, demi bisa mengetik cerita, Mas Benny harus pinjam mesin ketik besar di Tata Usaha sekolah, yang kalau jari kejeblos di antara tuts, sakiiit! Beliau juga banyak menemui dan belajar dari para penulis senior.

Menurut Mas Benny, untuk bertahan di dunia penulisan, kita harus punya passion, produktivitas, pengembangan, dan konsistensi. Passion artinya rasa suka yang dalam. Kalau kita memang punya passion di dunia menulis, rintangan apapun tak akan jadi masalah. Kalau semangat turun, harus dinyalakan kembali. Kalau sudah punya passion, kita pasti akan berusaha untuk menyelesaikan tulisan kita.

Produktivitas artinya kita harus terus berkarya. Produktivitas tidak melulu dihitung dari jumlah buku yang diterbitkan, lo! Mungkin seorang penulis hanya menerbitkan satu buku dalam setahun. Tetapi, bisa saja dia produktif dalam tulisan bentuk lain. Nulis di blog, nulis naskah tapi masih tersimpan di komputer, yang penting, tetap nulis. Pengembangan, artinya kita harus terus belajar dan mengikuti perkembangan. Kalau tulisan kita sejak dulu sampai sekarang begitu-begitu saja, artinya kita tidak berkembang. Kata Mas Benny, beliau senang melihat teman-teman yang sudah lama malang melintang di dunia kepenulisan tetap mau ikut workshop dan pelatihan untuk mengembangkan diri. 

Yang terakhir, konsistensi. Artinya, kita harus terus konsisten . Kalau memang mau jadi penulis, ya, harus berusaha untuk tetap eksis di dunia tulis menulis. Bacalah buku-buku yang sudah ada. Apa yang belum ada? Apa yang dibutuhkan? Tugas kita untuk melengkapinya.

Ilustrasi “Show don’t Tell”, Maksudnya?

Bersama Bu Riama Maslan

Pembicara kedua adalah Bu Riama Maslan. Selalu suka dengan gaya Bu Riama saat mentoring di beberapa workshop yang saya ikuti. Dan yang menyenangkan, Bu Riama ini selalu bawa koper berisi buku-buku yang ilustrasinya baguuuuuuus! Kemarin, buku-buku itu dipinjamkan ke peserta untuk dilihat-lihat ilustrasinya. Wow!

Kali ini, Bu Riama berbicara tentang ilustrasi yang “Show don’t Tell”. Maksudnya, ilustrasi harus bisa menggambarkan apa yang terjadi dalam cerita, nggak sekadar tempelan saja. Ilustrasi dan teks saling mendukung, harus sama-sama bercerita. Kalau sudah bisa diceritakan lewat gambar, tidak perlu ditulis dalam teks.

Saat menggambar, ekspresi tokoh yang digambar bisa dimainkan, misalnya bentuk mata atau alis yang berbeda, bisa menggambarkan emosi yang berbeda pula. Beliau juga mengingatkan tentang penempatan teks. Harus indah, jangan sampai nabrak gambar, harus diperhitungkan sejak awal.

Bu Riama juga mengevaluasi contoh ilustrasi yang masuk. Tahun ini, ilustrasi memegang peranan yang sama penting dengan cerita. Bu Riama berharap, dari 75 buku cerita yang disusun, ada 75 gaya ilustrasi yang berbeda. Waktu contoh-contoh ilustrasi terpilih ditayangkan, saya langsung membatin, “Wooow, ilustrasinya bagus-baguuus!”

Merangkai Ide Cerita

Bersama Mbak Eva dan Mas Benny

Mbak Eva Y. Nukman menjadi pembicara ketiga. Beliau memberikan tips untuk Membuat Cerita yang Menarik. Untuk membuat cerita yang menarik, carilah ide yang unik. Pilihlah tokoh yang menarik dan berkarakter kuat. Artinya, tokoh itu tak bisa digantikan oleh tokoh lain.

Yang jelas, satu syarat mutlak yang harus dipenuhi jika ingin piawai membuat cerita yang menarik, yaitu: BACA!!!

Selain itu, saat menulis cerita anak, kita juga harus paham dengan pembaca sasaran. Pembaca sasaran, ya, bukan sasaran pembaca! Mbak Eva juga berpesan, ada tanggung jawab yang besar di pundak para penulis buku anak. Apa yang kita tulis, bisa jadi mengubah nasib seorang anak, lo!



Yang paling saya ingat, beliau mengutip kalimat James W. Ellison, penulis novel Finding Forrester. Write your first draft with your heart, and then rewrite with your head. Ini cocok banget dengan beberapa workshop yang pernah saya ikuti. Tulis dulu semua cerita yang ingin kamu tulis. Selesai? Eits, tunggu! Menulis itu tak hanya berhenti saat cerita sudah jadi. Banyak rambu-rambu yang harus diikuti. Apakah sudah sesuai cerita dan bahasanya untuk pembaca? Apakah menarik? Apakah ada kata-kata sulit? Semua harus dipikirkan. Selalu ada revisi, revisi, dan revisi. Kalau mau hasil terbaik, ya, memang panjang prosesnya.

Rambu-rambu Menulis dari Puskurbuk

Di sesi terakhir, ada Bapak Singgih dari Puskurbuk. Beliau menjelaskan tentang rambu-rambu yang harus diikuti oleh para penulis dan penerbit jika bukunya akan digunakan sebagai buku pegangan dan pengayaan di sekolah. Tanpa ada peran puskurbuk, sering ada naskah yang tidak layak untuk dibaca, terutama oleh anak-anak (karena saat ini sedang membahas buku anak, ya).

Hmm, sebenarnya sudah berkali-kali saya ketemu Mas Benny, Bu Riama, dan Mbak Eva. Mereka sering menjadi mentor dalam berbagai acara kepenulisan. Tetapi, selalu ada hal baru yang bisa saya dapatkan. Meskipun materinya kadang sama, tetap saja bisa memperkaya dan mengobarkan semangat saya. Terima kasih, para mentor!

Dag Dig Dug di Hari Ketiga


Kelompok Cita Chetaah! (foto: panitia)

Nah, hari ketiga , nih, yang bikin deg-degan! Hari ini waktunya para penulis mempresentasikan naskah mereka. Saya dapat kelompok C bersama Bu Dewi Nastiti dan Bu Riama Maslan. Sebenarnya, kenapa juga harus deg-degan, ya? Ini, kan, naskah saya sendiri. Mestinya saya yang paling tahu dan bisa menjawab semua pertanyaan tentang naskah ini. Lagipula, masukan dari para mentor dan teman-teman akan memperkaya naskah yang saya tulis ini. Tetapi, ya, gitu deh, tetep aja deg-degan, hihi…

Naskah “Selamat Tidur, Kola!” ini diilustrasi dengan manis oleh Stella Ernes. Kenapa saya pilih Ernes? Pertama, terus terang, belum banyak illustrator yang saya kenal. Saya kenal Ernes waktu saya nulis Seri I Love Monster, udah lamaaa banget. Waktu masih di Bobo, saya juga beberapa kali minta tolong Ernes untuk bikin ilustrasi cerpen dan Geng LOTRIA. Dan saya merasa cocok. Ernes mudah diajak komunikasi dan selalu tepat deadline. Yang pasti, gambarnya imuuut, pas dengan karakter Kola yang sedang saya tulis. Puji Tuhan, kali ini Ernes mau diajak berkolaborasi untuk menyusun “Selamat Tidur, Kola!”

Presentasi "Selamat Tidur, Kola!" (foto: panitia)
Presentasi berjalan lancar. Bukan berarti tanpa revisi, lo, ya! Bu Dewi memberi masukan untuk memastikan dan memperkuat referensi tentang pola tidur koala yang masih kecil. Bu Riama banyak memberi masukan tentang layout dan sedikit tentang ilustrasi. Sebaiknya ilustrasi jangan terlalu penuh. Ending juga jangan buru-buru. Ilustrasi waktu Kola tidur lebih diperbesar karena itu yang utama. Nah, jadi penasaran, kan, isi cerita Kola? Tungguuu, jalan masih panjang ^^

Oya, satu lagi yang bikin dag dig dug di hari ketiga. Setelah sesi presentasi selesai, ada petugas yang didatangkan untuk melakukan tes antigen bagi semua pertemuan. Kalau ini, pasrah aja, lah.

Berakhir di Hari Keempat

Bukunya panjaaang!

Eits, sebelum acara berakhir, masih ada satu sesi lagi bersama Pak Sigit Priyasmono. Sebagai seorang seniman dan ilustrator senior, beliau sangat detail saat menilai dan menjelaskan sebuah ilustrasi. Di sesi ini Pak Sigit mengevaluasi secara umum ilustrasi yang dikirim para peserta.

Pak Sigit juga menunjukkan beberapa contoh karya beliau. Beliau berinovasi dengan membuat buku cerita yang panjaaang, lo! Wah, anak-anak pasti suka!

Saatnya Melangkah Pergi

Setelah terima uang jajan dari panitia (yang ini nggak usah diceritain, ya, hihi…), saatnya melangkah pergi meninggalkan Jakarta. Terima kasih untuk semua panitia yang sudah bekerja keras mendampingi dan mengurusi kami selama acara berlangsung. Terima kasih kepada para mentor dan dewan juri yang sudah memilih dan memperkaya kami dan naskah kami. Terima kasih untuk teman-teman yang selalu kompak, ceria, dan menghidupkan suasana. Terima kasih, Jakarta, aku boleh menjengukmu. Sampai ketemu lagi, yaaa!
Sampai Jumpa!


Veronica W
Seorang penulis dan editor yang menyukai dunia anak-anak.

Related Posts

34 komentar

  1. Kenangan yang indah ya mbak. Meski rindu tetap berusaha menahan diri supaya nggak peluk dan cipika cipiki. Aneh hehehe. Tapi demi kesehatan seluruh masyarakat harus bisa menahan diri. Sukses untuk bukunya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak, tiap GLN punya cerita dan kenangan indahnya sendiri. Susah ternyata, mengenali orang hanya lewat mata dan postur tubuhnya, haha.... Makasih, udah mampir, Mbak. Sukses untuk buku Mbak Utari juga ^^

      Hapus
  2. Mirip dengan RTR skrg GLN nya ya mbak. Senangnya baca tulisan penuh optimis dan mencerahkan gini. Makasih sharingnya mbak Vero. Semoga sehat selalum semoga ada masanya saya diberi rezeki ikutan GLN kelak. Amiiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak, konsepnya jadi model RtR. Tapi belum ada workshop khusus ilustrator. Kalau saya lihat dari hasil presentasi teman-teman kemarin, calon buku-bukunya jadi lebih kaya, menarik, dan tidak kaku.
      Makasih, Mbak Dian, sudah mampir. Semoga suatu saat bisa ikut GLN juga, yaaa.... 😇

      Hapus
  3. Untuk saya yang batu mulai masuk dunia menulis tulisan ini membuat semangat, walau masih harus merangkak untuk bisa memahami dan ikut didalamnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Merangkak... berjalan... tahu-tahu udah lari cepat menyusul yang lain 😊
      Semangat, Mbak! Kita belajar bareng-bareng 👍👍

      Hapus
  4. keren banget materi dan acaranya mba, apalagi ini yg ngadain kemendikbudnya langsung ya. sukses selalu mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak, ini salah satu acara tahunan Badan Bahasa-Kemdikbud. Serunya, kita dikasih workshop dan dibimbing para mentor sampai buku kita selesai. Makasih, sudah mampir. Sukses buat Mbak Adina juga 👍😊

      Hapus
  5. Saya selalu suka dengar (atau kali ini baca) pengalaman macam ini. 2 teman saya juga ikutan GLN, tapi satu lagi ngga masuk. satu lagi katanya kenal juga sama mba vero hihihi.. dan ya ampun saya nambah seneng lagi pas baca ada nama stella ernest, itu juga salah satu ilustrator favorite saya, berawal dari liat karyanya di kumpulan buku dongeng terbitan kanisius. Sukses terus untuk mba berdua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak Elin. Gambar Stella Ernes emang baguuus, ya. Beruntung banget, saya bisa kerjasama bareng Ernes. Oiya, salam buat temennya, Mbak 😁

      Hapus
  6. Menarik sekali mbak Veronica bisa mengikuti acara para penulis-penulis dan ilustrasinya. Keren banget bisa belajar banyak tentang literasi buku-buku anak-anak Indonesia. Semangat terus mbak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak Aqma. Iya, Mbak, seneng banget bisa belajar tentang literasi anak langsung dari ahlinya. Ternyata, untuk menulis cerita anak yang kelihatannya "sederhana", banyak hal yang harus dipelajari.

      Hapus
  7. Seru banget mbak, pengen deh ikut2 acara kayak gitu.
    Bener sih ya, kunci jadi penulis tuh konsisten menulis, dan rajin baca juga. Pasti dua hal itu yg sering disebutkan setiap ikut webinar kepenulisan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, betul, intinya harus mau baca dan nulis 😊 Ayo, Mbak, ikuuut! Acara ini diadakan tiap tahun. Kalaupun nggak ikut yang GLN, sering ada juga workshop lain tentang cerita anak.

      Hapus
  8. Seru banget seminarnya, pasti banyak sekali manfaat dari saling sharing sesama penulis. Semoga selalu sehat dan bisa terus berkarya ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Makasih, Mbak Rahma. Acara begini efektif banget untuk menyegarkan pikiran dan menambah semangat. Sehat & sukses buat Mbak Rahma juga, yaaa...

      Hapus
  9. words are powerful ya mba, apa yang kita tulis bisa mengubah nasib kita. dan setuju banget kalo penulis kudu suka baca biar tulisannya enak dibaca dan juga "berisi"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak, betul. Bahkan, nggak cuma nasib kita, nasib orang pun bisa berubah karena kata-kata yang kita tulis. Bisa berubah jadi baik ataupun buruk. Makanya, harus hati-hati saat menulis, apalagi menulis untuk anak. Setiap kata harus dipikirkan sungguh-sungguh 😊

      Hapus
  10. Wah selamat Mbak, aku juga pernah ikut acara dari Badan Bahasa dan memang worth ti banget. Banyak ilmu, banyak teman yang qt dapatkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak. Iya, seru, ya... Jadi pengen ikut lagi dan ikut lagi 😁

      Hapus
  11. sampai hari ini, bisa ikut acara GLN masih jadi angan yang jauh buat aku, mbak. tapi memang enggak boleh patah semangat, mesti belajar lagi dan belajar lagi, semoga bisa dapat kesempatan ikut kegiatan ini tahun depan. terima kasih sharingnya, bikin makin semangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Sama-sama, Mbak Bening. Ayo, Mbak, coba ikut tahun depan. Biasanya tiap tahun genre dan temanya beda-beda. Tapi, sama-sama seru.

      Hapus
  12. Wah mba seru banget kegiatannya ya.. itu yang pemateri di hari kedua benar-benar kegiatan bergizi. Sukses terus dan selamat mba!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Makasih, Mbak. Betul, banyak ilmu dan pengalaman dari para pemateri. Sukses buat Mbak Listiorini juga, yaaa....

      Hapus
  13. Keren banget mbak Ve... Selamat ya menjadi orang yang terpilih. Sebenarnya apa tips tips untuk menulis cerita anak?
    Kalo saya lihat fotonya, kebanyakan pesertanya wanita ya. Kenapa nih? Apa sebagian besar ibu-ibu yang suka mendongeng untuk anak2 nya?
    Semngat terus mbak Ve. Segera kelar bukunya. Ditunggu karya2nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak Lies. Kalau saya, tips menulis cerita anak, banyak baca dan bergaul dengan anak-anak, Mbak, biar tahu selera dan tingkat perkembangan mereka. Terus, kalau udah tahu apa yang mau ditulis, coba diobrolkan dulu sama pembaca sasaran.
      Iya, untuk penulis, memang sebagian besar wanita. Mungkin karena wanita lebih tekun dan lebih peduli pada anak, ya, hehe. Tapi, kalau ilustratornya, banyak yang cowok tuh. Semangat dan sukses buat Mbak Lies juga, yaaa...

      Hapus
  14. Wah, keren. Aku juga mau dapat kesempatan seperti Mbak Vero. Harus banyak belajar, nih. Sekali lagi selamat dan sukses, ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Makasih, Mbak. Ayo, Mbak, tahun depan coba ikut. Sukses untuk Mbak Hayatilah juga, yaaa...

      Hapus
  15. Ihhhh mbaa kerennn aku bacanya excitedd acaranya pasti seruu banget. Semoga suatu saat aku jga bisa ikut acara kayak itu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak. Iya, seru acaranya. Ayo, tahun depan ikut, yaaa.
      Sukses buat Mbak Roswita 😇

      Hapus
  16. Liat statusbtemen2 penulis yg ikutan GLN tuh antara ikutan seneng tapi ngiri berat karena kebayang betapa ilmu yg didapat di sana tuh daging banget pasti. Beruntunglah dikau mbak dan makasih ya udah sharing di sini aku jd bis aikutan belajar nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak Muna. Iya, bersyukur banget saya bisa ikut acara ini. Tapi, sebenarnya, ilmu bisa kita dapat dari mana-mana, Mbak. Jadi, GLN bukan segslanya, hehe... Para mentor ini pun orang-orang humble. Kalau mau tanya-tanya langsung ke mereka, pasti akan dijawab dengan senang hati. Sukses buat Mbak Muna, yaaa....

      Hapus
  17. Akk menyenangkan sekali ya Mbak Vero, aku tuh pengen banget bisa ikutan GLN ini tapi belum rezekinya terpilih semoga lancar proses penulisan bukunya ya Mbak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru, Mbak, bisa reunian, hehe. Yang tahun ini jadi berasa kayak RtR karena beberapa mentornya sama. Ayo, Mbak, ikut lagi tahun depan. Makasih, Mbak Dedew. Sukses juga buat Mbak Dedew dan buku-bukunya 😇

      Hapus

Posting Komentar